STATISTIKA & BIG DATA DALAM TRANSFORMASI DIGITAL DUNIA BISNIS

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia ( STIESIA )

Bisnis merupakan salah satu aktivitas yang pasti akan selalu ada dalam suatu negara. Aktivitas ini memiliki kaitan erat dengan perekonomian suatu negara. Salah satu dampak nyata dari kegiatan bisnis adalah terbukanya berbagai peluang kerja bagi masyarakat. Bahkan bisnis juga memiliki peranan dalam perkembangan inovasi dan teknologi dalam negara tersebut. Selain aspek ekonomi, nyatanya bisnis juga berperan dalam mendorong perubahan taraf sosial dan standar hidup masyarakat.  Sampai pada masa ini, bisnis telah mengalami banyak perkembangan.  Bisnis diawali dari zaman kuno, yang masih berbasis barter, namun lambat laun pelaku bisnis mengalami kesulitan dikarenakan  tidak ada standarisasi nilai tukar, sehingga pada zaman pertengahan munculah uang  sebagai alat tukar. Selanjutnya pada zaman pertengahan, telah muncul sistem perbankan.  Pada abad 18-19, yang ditandai dengan adanya revolusi industri, bisnis mengalami perkembangan kembali dengan munculnya mesin uap, listrik, dan telepon. Bisnis menjadi lebih efisien, proses produksi tidak lagi dilakukan secara manual namun sudah dibantu oleh mesin, sehingga memicu adanya produksi massal. Lalu pada Abad 20, hadirnya internet, komputer, dan perangkat lunak, membuat seluruh aktivitas bisnis terintegrasi satu sama lain dengan mudah. Dan saat ini, bisnis telah bertransformasi pada basis digital

Bisnis yang berkembang pada zaman ini atau biasa disebut era revolusi industri 4.0,  hampir semuanya telah berbasis digital atau biasa disebut bisnis digital. Model bisnis ini menjadikan teknologi sebagai elemen utama usaha. Teknologi dimanfaatkan sejak proses produksi, promosi produk, transaksi penjualan, hingga layanan kepada pelanggan. Dalam proses pemasaran, model bisnis ini dianggap lebih fleksibel karena memiliki jangkauan area konsumen yang luas. Model bisnis ini dinilai relatif terjangkau karena produsen tidak perlu mengeluarkan upaya tambahan untuk mencari atau menyewa stan dalam memasarkan produknya. Kemudahan ini juga dirasakan oleh konsumen. Untuk membeli pakaian, misalnya, Anda tidak perlu keluar rumah. Cukup duduk santai, pilih produk melalui gawai, dan barang pun langsung dikirim ke tempat Anda. Tanpa disadari, bisnis digital ikut melahirkan beragam ekosistem usaha baru. Sebelum marketplace seperti Shopee dan Tokopedia ramai digunakan, penjualan online umumnya dilakukan melalui situs atau toko digital milik penjual masing-masing. Meski menawarkan kemudahan, konsep e-commerce juga menimbulkan sejumlah masalah, seperti risiko penipuan dan tidak adanya jaminan barang. Kondisi inilah yang kemudian mendorong lahirnya ekosistem bisnis digital baru berupa marketplace. Marketplace pada dasarnya berfungsi sebagai wadah yang mempertemukan penjual dan pembeli dalam satu platform, dengan sistem transaksi yang dirancang lebih aman dan tertata. Melalui mekanisme ini, baik penjual maupun pembeli memperoleh perlindungan, terutama dari risiko penipuan. Dana yang dibayarkan konsumen tidak langsung diterima oleh penjual, melainkan ditahan sementara hingga barang benar-benar sampai ke tangan pembeli. Kehadiran marketplace kemudian mendorong lahirnya berbagai model bisnis baru, mulai dari jasa pengiriman seperti JNE dan J&T, hingga perusahaan fintech (OVO, Go Pay, DANA, dll)  yang menyediakan beragam kemudahan dalam proses pembayaran. Di Indonesia, model bisnis digital juga telah berkembang secara pesat dari tahun ke tahun.

Transformasi bisnis yang bersifat digital, membuat data menjadi suatu kebutuhan pokok penting. Sebelum mengeluarkan produk terbaru, pebisnis harus melakukan riset terlebih dahulu, mengenai produk seperti apa yang diinginkan oleh para konsumen, sehingga nantinya produk yang dilaunching sesuai dengan minat konsumen.  Bahkan setelah produk telah laku dijual di pasaran, seorang pebisnis juga masih membutuhkan data mengenai bagaimana kepuasan konsumen selama menggunakan produk tersebut. Harapannya, saat konsumen merasa puas, mereka akan terus memilih dan setia menggunakan produk tersebut. Kondisi tersebut menggambarkan, bahwa dunia bisnis saat ini,  menganggap data sebagai pengambil keputusan terbaik. Data juga dianggap sebagai suatu hal yang dapat memicu pengembangan produk dan inovasi dari suatu bisnis. Andaikan hasil dari riset pasar produk shampo menunjukkan bahwa produk baru yang diharapkan konsumen adalah shampo dengan varian yang berbeda dan belum pernah ada di pasaran. Agar produk baru tersebut bisa cepat diterima di pasaran, perusahaan harus berani melakukan inovasi dan menyesuaikan pengembangan produknya dengan keinginan konsumen yang terungkap dalam riset pasar. Di dalam lingkungan perusahaan, data juga berperan penting untuk membaca bagaimana kinerja karyawan berjalan. Data kinerja yang dikumpulkan dapat digunakan untuk menilai kontribusi setiap karyawan serta melihat tingkat produktivitasnya dalam mendukung keberlangsungan dan pertumbuhan bisnis. 

Semakin besar kontribusi data dalam segala aspek, khususnya dalam aspek ekonomi dan bisnis, maka data juga akan  menjadi semakin beragam dan kompleks, sehingga munculah istilah “ big data”, yaitu suatu kumpulan data yang sangat besar, bervariasi, dan kompleks. Jenis data ini memiliki 3 ciri khas yang dikenal dengan 3V (Volume, Velocity, dan Variety). Ciri khas yang pertama yaitu volume, big data merupakan suatu data dengan jumlah yang sangar besar. Jumlah disini bukan dihitung dalam sistem ratusan, ribuan atau jutaan, namun sudah dihitung menggunakan volume seperti terabyte, petabyte. Ciri kedua, velocity yang merujuk pada kecepatan data yang dihasilkan. Bigdata seringkali menghasilkan data dalam waktu yang realtime atau hampir realtime. Data yang dihasilkan pada unggahan media sosial, sepeti likes dan comment merupakan salah satu contohnya.  Sedangkan untuk ciri terakhir adalah variety (keragamanan) dari big data. Big data bias berupa data terstruktur (database) sampai dengan data tak terstruktur (teks, gambar, video, audio).  Big Data saat ini telah banyak dipakaii diIndonesia. Penggunannya tidak hanya pada sektor bisnis, namun juga pada beberapa sektor seperti keuangan, kesehatan bahkan hiburan. Saat Anda mendengarkan musik pada layanan streaming, akan muncul rekomendasi musik personal. Rekomendasi tersebut berasal dari kumpulan data history dari musik yang Anda dengar sebelumnya, atau bahkan dari data musik yang sedang tren. Agar potensi big data dapat dimanfaatkan secara maksimal, data tersebut tentu perlu melalui proses pengolahan yang tepat. Salah satu alat penting yang digunakan dalam mengolah dan membaca big data adalah statistika, yang membantu mengubah kumpulan data besar menjadi informasi yang bermakna. Rekomendasi musik yang bersifat personal baru dapat dihadirkan setelah data riwayat mendengarkan pengguna serta tren musik yang sedang populer dikumpulkan, lalu diolah dengan bantuan statistika. Gambaran lain dari penggunaan big data dan statistika dipakai dalam identifikasi risiko gagal bayar pada perusahaan keuangan, atau penentuan kelayakan kredit. Beberapa data yang tersedia seperti transaksi nasabah, demografi, serta riwayat kredit dilakukan proses pengolahan data menggunakan metode statistika sehingga bisa terbentuk pengelompokkan risiko dari setiap nasabah. 

Jika dianalogikan dengan kegiatan memasak, big data dapat diibaratkan sebagai berbagai bahan mentah, seperti sayur, telur, atau tempe. Sementara itu, statistika berperan layaknya proses memasak yang mengolah bahan-bahan tersebut hingga menjadi hidangan siap santap. Tanpa melalui proses pengolahan, bahan mentah tersebut tentu belum bisa dinikmati dan dimanfaatkan secara maksimal. Big data dan statistika diprediksi akan tetap meningkat selama beberapa tahun mendatang, sehingga dapat diprediksi bahwa  bisnis digital juga masih akan terus mengalami perkembangan baik dari segi jenis maupun jumlah.

Ditulis Oleh :

Tags :