MEMAHAMI PESERTA DIDIK MELALUI DIFERENSIASI

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia ( STIESIA )

Dari tahun ke tahun, pendidikan menjadi faktor yang penting dalam membangun karakter dan kemampuan individu suatu bangsa. Selain itu pendidikan juga dapat membangun keberadapan manusia. Dalam perspectif Al-Ghazali: Studi Kitab Al-Hidayah menyebutkan bahwa menjadi manusia beradab sangat penting agar mampu menempatkan diri di lingkungan serta dihormati oleh masyarakat. Oleh karena itu dalam sila ke-2 Pancasila,dinyatakan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Untuk menjadi adil dan beradab kita membutuhkan pendidikan. Sebagaimana dikatakan Ki Hajar Dewantara,” Dengan ilmu kita menuju kemuliaan, dengan amal kita menuju kebajikan”

            Untuk menuju proses pendidikan yang berselaraskan kemuliaan dan kebajikan, menurut Mendiksaintek, Brian Yuliarto dalam Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025 diperlukan sistem pendidikan yang berkeadilan, relevan, dan berdampak. Oleh karena itu Diksaintek Berdampak diluncurkan sebagai gerakan nasional yang mempertegas keberlanjutan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Dalam mendukung hal tersebut, ada dua hal yang harus terlebih dahulu dilakukan yaitu mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan faktor pendukungnya. Dengan kata lain, peserta didik dan pendidik harus dibentuk beriringan dengan segala faktor yang dapat memperkuat terlaksananya gerakan tersebut.

            Peserta didik (siswa) dan pendidik (guru/dosen) tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Segala perkembangan maupun ilmu yang berkaitan peserta didik dan pendidik selalu dilakukan bersamaan dan seimbang. Dalam hal ini, diferensiasi yang pertama kali dicetuskan oleh Carol Ann Tomlinson di 1995 sebenarnya bukan hal baru dalam pendidikan. Diferensiasi terjadi ketika guru/dosen merespon terhadap kebutuhan siswa yang terbentuk oleh mindset dan berdasarkan beberapa prinsip sebagai berikut:

  1. Respectful tasks
  2. Quality curriculum
  3. Flexible groupings
  4. Continual assessment
  5. Building community.

Sedangkan pendidik melakukan diferensiasi melalui Content (apa yang siswa pelajari), Process (bagaimana cara mereka belajar atau aktifitas apa yang bisa dilakukan agar siswa bisa terlibat secara aktif), Product (bagaimana siswa mendemonstrasikan apa yang telah dipelajari), dan Affect/Environment (sikap/perhatian apa yang diberikan kepada siswa sehubungan dengan perasaan and kebutuhan emosi mereka). Hal tersebut diimplementasikan sesuai dengan peserta didik Readiness, Interest, dan Learning profile. Semua faktor tersebut harus didukung juga dengan variasi strategi instruksional yang dilakukan pendidik, contohnya: graphic organizers, scaffolding reading, small-group instruction, learning contracts, tiering (berjenjang), learning/interest centers, differentiated homework, dan lain-lain. Dengan kata lain, tujuan diferensiasi adalah guru/dosen bisa memastikan bahwa siswa terlibat secara aktif dan terdampak dalam proses pembelajaran, bukan sekedar memahami materi. Ketika siswa terkendala dalam pemahaman materi, dosen memfasilitasinya agar bisa belajar secara efektif. Untuk siswa yang mampu memahami materi, dosen perlu memberikan stimulus agar mereka tetap semangat belajar. Sedangkan untuk siswa yang tidak bisa belajar secara efektif dengan satu tipe model pembelajaran atau dengan satu jenis materi secara effektif, dosen perlu memberikan model pembelajaran yang berbeda atau memfasilitasi mereka dengan instruksi agar dapat memahami materi tersebut. Dalam hal ini, diferensiasi menjadi suatu cara berpikir mengenai proses pengajaran dan pembelajaran bukan hanya kumpulan strategi. Lebih lanjut lagi, diferensiasi yang efektif bukan berarti pendidik harus memodifikasi berdasarkan semua peserta didik. Melainkan, secara garis besar pendidik harus waspada: 1) how their content is organized for meaning, 2) who their individual are (tingkat kemampuan siswa sampai mana), dan 3) which aspects of their classrooms they can modify to better connect content and learners. Jadi, effective differentiation depends a great deal on teacher mindsets and the learning environment in the classroom. Kedua hal tersebut, mindset pendidik dan lingkungan kelas yang harus diperhatikan ketika mengimplementasikan diferensiasi.

            Konsep diferensiasi yang dikemukakan oleh Carol Ann Tomlinson bersama David A. Sossa didalam buku berjudul Differentiation and the Brain (2011) didukung Brain Research, dimana prinsip diferensiasi bisa digunakan dosen agar dapat memahami mahasiswanya. Diantaranya adalah:

  1. Each brain is unique (setiap peserta didik memiliki caranya masing-masing dalam belajar, jadi dibutuhkan variasi bentuk pembelajaran-individual, pair, group works, students as observer or participant)
  2. The brain looks for pattern (semakin banyak informasi bermakna yang diserap peserta didik, semakin banyak pola yang bisa dibentuk dan diterima otak)
  3. The brain needs divergent thinking to expand cognitive networks (dalam hal ini peserta didik membutuhkan cara yang berbeda ketika menghadapi masalah, sehingga mereka akan mengaktifkan pola baru dalam berfikir dan memperluas pemikiran kognitifnya)
  4. Emotions affect learning (hal-hal yang berkaitan dengan emosi peserta didik penting untuk diperhatikan, sehubungan dengan proses otak yang menstimulasi untuk terus belajar/motivated atau berhenti belajar ketika merasakan ketegangan/anxiety)
  5. Learning is also a social process (pembelajaran akan berdampak/berkembang ketika konsep diri dan hubungan sosial peserta didik-interpersonal & intrapersonal relationship ada di dalamnya)
  6. There needs to be a meaningful reason for information to be stored in long-term memory (apa yang diperoleh peserta didik selama pembelajaran akan hilang setelah mereka di evaluasi. Tetapi, memori akan pembelajaran yang membuat mereka terlibat aktif maupun berhubungan dengan keseharian mereka akan menjadikan informasi yang diserap bertahan lama)

Ketika pendidik sudah bisa memahami peserta didik melalui diferensiasi di tahap awal, lewat mindset dan learning environment, di tahap berikutnya diferensiasi yang efektif akan diimplementasikan dengan quality curriculum dan classroom assessment.

Segala sesuatu yang diajarkan (curriculum) memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana cara mengajarnya (differentiation). Oleh karena itu, semua peserta didik memiliki akses terhadap quality curriculum semaksimal mungkin lewat effective differentiation. Pada quality curriculum ada 5 prinsip yang perlu diperhatikan yaitu:

(1) Organized around essential goals. Kurikulum harus bisa mengakomodasi jawaban atas

dua pertanyaan yakni a) Does it make sense (apakah materi yang diberikan sudah melengkapi apa yang diketahui peserta didik?) dan b) Does this have meaning (apakah materi tersebut relevan dengan peserta didik? Pada dasarnya, dosen harus memberikan materi yang make sense dan meaningful.  

(2) Aligned. Elemen dalam kurikulum (goals, assessments, and learning experiences) harus saling berhubungan.

(3) Focused on student learning. Dalam hal ini fokus pembelajaran bukanlah sekedar

mempelajari sesuatu atau meningkatkan kemampuan, melainkan memahami konsep dan prinsip dari sebuah ilmu atau dikenal BIG IDEAS. Dengan kata lain, dosen memfasilitasi mahasiswa to know how to get (the process) NOT to get only (the result).

(4) Engaging. Dengan kurikulum yang memberikan learning experience yang relevan

dengan mahasiswa serta memotivasi mereka, engagement yang diberikan akan lebih

terhadap knowledge, skills, dan understanding.  

(5) Authentic. Kurikulum yang otentik adalah kurikulum yang dapat mengikutsertakan mahasiswa ke dalam proses pencarian jawaban atas masalah yang dihadapi. Dengan demikian, interest, skills, and knowledge mahasiswa akan berkembang layaknya seorang ahli yang sedang meneliti.

Singkat kata, melakukan diferensiasi terhadap kurikulum harus direncanakan dan disesuaikan dengan student differences, different reading and writing abilities, different levels of readiness, different interests, dan different preferences for learning.

Sedangkan untuk classroom assessment, dosen perlu melihat bahwa penilaian bukan sekedar cara mengukur apa yang telah mahasiswa pelajari. Oleh karena itu, assessmen terbagi menjadi 3 jenis yang memiliki tujuan yang berbeda yaitu, assessment of learning, assessment for learning, dan assessment as learning.

  • Assessment of Learning. Assesmen ini merupakan tes sumatif, yang diberikan setelah pembelajaran berakhir. Bentuk tes bisa berupa short-answer tests, essay tests, writing assignments, presentations, authentic problems, etc. Jenis assesmen ini masih mengukur seberapa besar kemampuan mahasiswa. Tetapi, tes ini bisa berkembang menjadi instrumen yang mengembangkan mahasiswa higher-level thinking ketika bentuk tesnya more open-ended, abstract, dan memberikan higher-level questions.
  • Assessment for Learning & Assessment as Learning. Kedua jenis assesmen ini memfokuskan student learning not grading. Tujuan dari assesmen ini memfasilitasi baik dosen maupun mahasiswa dengan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk meningkatkan proses pengajaran dan juga pembelajaran. Pemberian feedback yang spesifik and deskriptif terhadap mahasiswa dalam rangka meningkatkan kemampuan mereka, dan guidance for teachers about how to improve their teaching or better support certain students merupakan elemen yang menjadi pembeda dengan Assesment of Learning.

Dengan demikian, melalui diferensiasi pendidik bisa lebih memahami peserta didiknya sehingga menghasilkan proses pembelajaran dan pengajaran yang bermakna dan berdampak. Akhir kata, mengutip dari apa yang dikatakan Carol Ann Tomlinson,” I would like to be someone who is aware enough that there is always one more way in learning”.

Ditulis Oleh :

Tags :