STIESIA Surabaya-BRI Cabang Bangkalan Bekali Pengusaha Kecil Desa Klampis Barat Guna Perluas Jejaring Pasar Produk Bahari

BANGKALAN (stiesia.ac.id) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya berbagi ilmu kepada pengusaha kecil yang mengolah produk bahari di Desa Klampis Barat, Kecamatan Klampis, Bangkalan, yang sudah bermitra sejak 2023 agar memiliki jejaring pasar lebih luas hingga di luar Pulau Madura sehingga memberikan penghasilan tambahan yang signifikan bagi warga desa. 

Pembekalan dilakukan berangkat dari kondisi warga Desa Klampis Barat yang dikenal dengan beragam produk perikanan seperti terasi, petis ikan, sambal teri dan ikan asap, namun seperti yang terlihat di situs Kemendes, angka Indeks Desa Membangun (IDM) yang menunjukkan tingkat taraf hidup warga desa, masih menunjukkan angka 0,6744 yang bisa diartikan berkembang atau belum sejahtera sepenuhnya.

Padahal Desa Klampis Barat letaknya yang berbatasan langsung dengan laut dan sebagian besar profesi masyarakatnya adalah nelayan memiliki produk bahari baik mentah ataupun siap makan yang berpotensi untuk memberikan penghasilan tambahan yang signifikan bagi warga desa jika diperluas pangsa pasarnya hingga ke luar Pulau Madura. Hanya saja, pengusaha kecil yang mengolah produk bahari dari nelayan ini terkendala jaringan pemasarannya.

Atas dasar kondisi tersebut, tim PkM STIESIA Surabaya mendatangi Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Diskop-UKM) Provinsi Jawa Timur. Disambut oleh bagian Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pelatihan Koperasi dan UKM, Ketua Tim PkM, Prawita Yani, S.E., M.Ak., Ak., mendiskusikan kondisi tersebut.

Berdasarkan diskusi, pihak Diskop-UKM menyarankan untuk menempatkan produk bahari Desa Klampis Barat di galeri display Diskop-UKM yang bekerjasama dengan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) yang lokasinya berdekatan. Lokasi yang stratgis dekat dengan bandara internasional Juanda menjadikan produk bahari Desa Klampis Barat berpotensi untuk dijadikan buah tangan bagi para wisatawan ataupun tamu instansi. Selain itu, minimnya produk makanan dan minuman Madura menjadikan produk bahari Desa Klampis Barat mempunyai peluang yang besar untuk memperoleh tambahan omzet.

Meski perluasan area pemasaran sudah menemukan solusinya, namun untuk mengirimkan produk yang berada di luar pulau secara konsisten membutuhkan dana tambahan. Selain itu, kurasi produk disertai kewajiban untuk mencatatkan sertifikasi halal pada produk dan juga Nomor Induk Berusaha (NIB) di usahanya sebagai keabsahan berusaha membutuhkan pendanaan tambahan di luar yang dipunyai.

Terkait hal itu, sekali lagi tim PkM STIESIA Surabaya menggandeng pihak eksternal yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Bangkalan sebagai pihak yang terdekat untuk memberikan materi berupa persyaratan pengajuan kredit mikro usaha. BRI dipilih sebagai narasumber tambahan berdasarkan pertimbangan bahwa sebagian besar warga desa adalah nasabahnya.

Di hari dan tanggal yang disepakati yaitu Rabu, 7 Januari 2026, tim PkM yang terdiri Prawita Yani, S.E., M.Ak., Ak. (ketua), beserta para anggota kelompok lain yaitu Muktar Redy Susila, S.Si., M.Si. yang juga bertindak sebagai moderator sekaligus pembawa acara, Wawan Cahyo Nugroho, S.E., M.S.A., BKP., dan juga Fastha Aulia Pradhani, S.Si., M.Si. bertolak dari Surabaya untuk membekali 26 pengusaha produk bahari Desa Klampis Barat dengan materi kurasi produk Diskop-UMKM dan persyaratan pengajuan kredit oleh BRI.

Acara dimulai dengan sambutan oleh tuan rumah yang diwakili ibu Hj. Ulfatin Anisah, kepala Desa Klampis Barat.  Hj. Ulfatin berharap melalui sambutannya agar pembekalan kali ini bisa menumbuhkan motivasi bagi para warganya terutama pengusaha UMKM untuk bisa meningkatkan nilai produk sehingga diminati oleh masyarakat luas. Beliau juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada tim PkM STIESIA Surabaya dan perwakilan BRI telah meluangkan waktu untuk acara ini.

Materi pengajuan kredit usaha mikro disampaikan Bapak Imron selaku Manajer Umum BRI Bangkalan, berfokus pada persyaratan yang harus dipenuhi antara lain dengan keharusan pengusaha yang bersangkutan untuk menjadi nasabah BRI demi kemudahan kontrol dan pengawasan pembayaran kredit. Hal ini sebetulnya mempermudah pengusaha dikarenakan tidak adanya kewajiban untuk melampirkan laporan keuangan baku. Peserta banyak bertanya mengenai kelayakan kredit seperti status Bank Indonesia (BO) checking, survey lokasi hingga waktu pencairan pinjaman. Keseluruhan pertanyaan bisa dijawab dengan baik dan menambah kejelasan pengajuan kredit mikro yang khusus untuk warga Desa Klampis Barat ditangani oleh BRI Teras yang terletak di Pasar Klampis.

Untuk materi kurasi produk oleh Diskop-UKM, disampaikan oleh ketua tim berdasarkan informasi dari Diskop-UKM. Persyaratan Jaminan Produk Halal (JPH) dan juga status NIB usaha disampaikan pertama kali. Lalu dilanjutkan dengan mekanisme konsinyasi yang dipersyaratkan. Peserta banyak bertanya mengenai pengemasan yang menjadi perhatian serius terkait mekanisme display produk. Hal ini disinyalir karena mekanisme konsinyasi yang dikhawatirkan akan membuat masa display produk menjadi lebih lama sehingga berdampak pada ketahanan produk.

Ketua tim PkM menuturkan kegiatan ini adalah wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat dan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi di masyarakat sebagai salah satu sumber informasi yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

“Sebagai mitra STIESIA Surabaya, Desa Klampis Barat menjadi salah satu fokus dalam kontribusi kami dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi kepada masyarakat. Kami dari tim PkM berharap dengan kegiatan ini, kami bisa berperan sebagai agen perubahan yang memotivasi pengusaha UMKM bahari di desa agar bisa meningkatkan skala usahanya,” jelas dosen S1 Akuntansi di STIESIA tersebut.

Naskah/Foto    : Tim PkM

Diposting Oleh :

Tags :