SURABAYA (stiesia.ac.id)-Peringatan Dies Natalis Ke-54 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya kembali menyuguhkan aktivitas akademik berdampak.
Kali ini kuliah tamu (guest lecture) digelar dengan menghadirkan pakar tata negara Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH., SU., M.I.P bertema “Rekonstruksi Tata Kelola Nasional : Menuju Pemerintahan yang Akuntabel dan Berdampak” pada Senin, 27 April 2026.
Kehadiran mantan calon wakil presiden RI dalam Pemilu 2024 ini di kampus Menur Pumpungan ini begitu dinanti segenap civitas academica kampus yang memiliki slogan ‘Tentukan Arah Masa Depan Bersama Kami’ ini. Buktinya, riuh rendah tepuk tangan hadirin yang terdiri dari para mahasiswa, dosen, jajaran pimpinan perguruan tinggi beserta pimpinan prodi beserta undangan menggema manakala mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini memasuki Hall 2 STIESIA.
Kuliah tamu Prof. Mahfud yang dimoderatori Dr. Emeralda Ayu Kusuma, S.Sos., M.Si. kian hidup karena usai sesi penyampaian materi kuliah tamu, sesi tanya jawab dibuka bagi audiens. Mereka yang mengajukan pertanyaan ada dari mahasiswa, termasuk juga sejumlah dosen. Mereka terlihat begitu bersemangat mengajukan pertanyaan.
Seperti biasanya, dengan gaya bicaranya yang blak-blakan, Prof. Mahfud menyoroti fakta carut marutnya tata kelola nasional saat ini.
“Tata kelola kita saat ini menghadapi banyak tantangan sehingga perguruan tinggi seperti STIESIA ini perlu membahas rekonstruksi (tata ulang) karena nampaknya ada masalah,” ujar pria kelahiran Omben, Sampang, Madura ini saat menyampaikan materi.
Selama persis 60 menit, Prof. Mahfud menyampaikan materi. Sebagai praktisi sekaligus akademisi, Prof. Mahfud menyampaikan materi baik dari sisi konsep maupun fakta di lapangan.
“Tata kelola sering disamakan dengan good governance. Apa beda tata kelola dan good governance? Kalau good governance bersifat umum. Ini biasanya dipakai oleh organisasi internasional. Tata kelola yang baik,” paparnya.
Menurut ayah tiga putra ini, tata kelola yang dimaksud di Indonesia ini ditambah unsur lokal yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Menurut guru besar tata negara UII ini, tata kelola yang bagus ditunjukkan dengan adanya supremasi hukum. Selain itu ada akuntabilitas publik, transparansi atau profesionalitas aparatur, efektivitas dan efisiensi, lalu ada partisipasi publik.
“Tata kelola nasional dalam konteks Indonesia itu ringkasnya merupakan pedoman dalam mengelola kekuasaan, mengelola sumber daya, dalam mengambil keputusan, untuk mencapai tujuan publik,” jelas pria yang pernah menempati posisi menteri di era beberapa presiden RI.
Dalam pengamatan Prof. Mahfud, kondisi faktual yang saat ini terjadi disebutnya sebagai demokrasi transaksional. ”Demokrasi harus berkualitas bukan formalitas,” kata Prof. Mahfud.
Prof. Mahfud tak menampik Indonesia saat ini jauh lebih maju dibanding dengan di era 1970 -an. Prof Mahfud mencontohkan, pada tahun 1970-an tak pernah terbayangkan, lulusan sarjana seperti sekarang yang jumlahnya mencapai 18 juta lebih.
Menurutnya, kondisi pendidikan saat ini jauh lebih maju. “Dies Natalis STIESIA merupakan salah satu bukti Indonesia ini sudah maju. Bayangkan ada perguruan tinggi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia yang begini besar kampusnya, dengan prodinya yang telah terakreditasi Unggul. Ini tak terbayangkan, pada tahun 70-an,” ungkapnya.
Selain itu, juga dicontohkan terlaksananya transformasi dalam bentuk digital atau digital government. “Sekarang bikin KTP sudah menggunakan aplikasi, memantau perkara di pengadilan juga sudah bisa lewat aplikasi,” sebut Mahfud.
Berdasarkan parameter tata kelola yang bagus sebagaimana tersebut di atas, Prof Mahfud menilai tata kelola nasional saat ini diakui sudah banyak yang baik. ”Tapi ada juga yang tidak baik. Ini yang harus diperbaiki. Harus direkonstruksi atau ditata ulang,” ungkap mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Indonesia ini.
Menurut Prof Mahfud, tata kelola bukan hanya sekadar kegiatan administratif tapi harus mampu memperbaiki kondisi kehidupan bangsa. Dengan lain kata, tata kelola yang berdampak berarti memberikan pengaruh nyata yang lebih baik. “Titik berat tata kelola nasional bukan hanya penguatan government namun mendukung partisipasi publik bersinergi dengan berbagai hal, termasuk dengan kebijakan hukum dan institusi,” papar mantan anggota DPR RI ini.
Sebelum pemaparan kuliah tamu, Ketua STIESIA Surabaya Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA. memberikan opening speech. Dalam sambutannya, Ketua STIESIA Surabaya yang asli berasal satu daerah dengan Prof. Mahfud ini menegaskan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam menjawab tantangan zaman. “Indonesia adalah bangsa yang besar dan jika SDM dikelola dengan baik, kita bisa menjawab tantangan zaman ke depan,” ujarnya.
Menurut Prof. Nur, peran STIESIA sebagai salah satu perguruan tinggi dengan prodi terakreditasi Unggul memiliki peran besar terhadap pengelolaan SDM berkualitas.*
Penulis : Fathurrochman Al Aziz
Foto : Humas STIESIA Surabaya



