Ketika Ikhtiar Langit dan Bumi Dilantunkan dari Masjid Al Hikmah Kampus STIESIA Surabaya

SURABAYA – Menjelang waktu Dzuhur, suasana di Masjid Al-Hikmah STIESIA Surabaya terasa berbeda dari biasanya. Satu per satu dosen, tenaga kependidikan, pimpinan kampus, hingga pengurus Yayasan Perpendiknas datang memenuhi saf. Tidak ada rapat, tidak ada presentasi, dan tidak ada pembahasan angka-angka capaian. Siang itu, mereka berkumpul untuk satu tujuan yang sama: berdoa.

Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah, keluarga besar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya memilih sejenak menghentikan rutinitas pekerjaan. Mereka duduk bersisian, menengadahkan tangan, melangitkan harapan bagi masa depan kampus yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak orang.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an dan dzikir yang menggema di dalam masjid menghadirkan suasana teduh. Tidak sedikit peserta yang tampak larut dalam kekhusyukan. Ada yang memejamkan mata, ada yang menundukkan kepala, sementara yang lain berusaha menyembunyikan haru yang perlahan muncul di wajah mereka.

Bagi sebagian orang, penerimaan mahasiswa baru mungkin hanya dipandang sebagai agenda rutin tahunan. Namun bagi perguruan tinggi, proses itu sesungguhnya menyimpan harapan besar. Di balik setiap formulir pendaftaran yang masuk, terdapat mimpi seorang anak muda yang ingin mengubah masa depannya melalui pendidikan.

Kesadaran itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa STIESIA mengawali langkah menuju tahun akademik 2026/2027 dengan pengajian dan istighosah bersama. Bukan semata memohon bertambahnya jumlah mahasiswa, melainkan berharap agar kampus dapat terus menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu dan berakhlak.

Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fajrih Asyik, menyampaikan bahwa setiap pencapaian yang diraih kampus selama ini tidak lepas dari kerja keras banyak pihak. Namun ia meyakini, ada kekuatan lain yang tidak kalah penting, yakni doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.

Menurutnya, sebuah institusi pendidikan tidak hanya dibangun oleh gedung, kurikulum, atau teknologi pembelajaran. Lebih dari itu, kampus tumbuh karena adanya kepercayaan, kebersamaan, dan nilai-nilai yang dijaga bersama dari waktu ke waktu.

Di tengah acara, suasana semakin khusyuk saat doa-doa dipanjatkan. Nama STIESIA disebut bersama harapan agar kampus terus berkembang. Para dosen didoakan agar diberikan kesehatan dan keberkahan dalam mengajar. Para mahasiswa didoakan agar sukses menempuh pendidikan. Bahkan mereka yang kelak belum pernah menginjakkan kaki di kampus itu pun turut menjadi bagian dari untaian doa.

Penceramah, Dr. KH. Khozin Mustafid, mengingatkan bahwa keberkahan sering kali menjadi unsur yang tidak terlihat, namun memiliki pengaruh besar dalam perjalanan hidup seseorang maupun sebuah lembaga.

Dalam tausiyahnya, ia mengajak seluruh peserta untuk tidak hanya mengejar keberhasilan yang tampak secara kasat mata, tetapi juga memohon agar setiap ilmu yang diajarkan dan dipelajari membawa manfaat yang luas bagi masyarakat.

Bagi keluarga besar STIESIA, siang itu bukan sekadar rangkaian acara seremonial. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali tujuan utama pendidikan: mempersiapkan manusia agar mampu memberi manfaat bagi sesama.

Ketika kegiatan berakhir dan para peserta kembali ke ruang kerja masing-masing, suasana kampus perlahan kembali seperti biasa. Namun ada satu hal yang tertinggal di hati mereka—keyakinan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan terasa lebih bermakna ketika disertai doa.

Dan dari sebuah masjid di sudut kampus, harapan-harapan itu kembali dilangitkan. Bukan hanya untuk keberhasilan sebuah institusi, tetapi juga untuk masa depan ribuan generasi yang kelak akan menapaki jalan kehidupan melalui pendidikan.

Penulis : Fathurrochman Al Aziz

Foto : Humas

Diposting Oleh :

Tags :