Surabaya (stiesia.ac.id)—Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya menerjunkan tim dosen dan mahasiswanya ke Kampung Pancasila di Jalan Sidomulyo, Kelurahan Sidotopo Wetan RT 03 RW 05, Kecamatan Kenjeran, Surabaya, dalam rangka kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Program ini bertujuan memperkuat pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis nilai-nilai Pancasila di kawasan pemukiman padat tersebut.
Kegiatan yang berlangsung di Balai RW 05 pada Jumat (26/6/2026) itu melibatkan empat dosen dan dua mahasiswa STIESIA, yakni Dr. Yayah Atmajawati, SE., M.Si., Dr. David Efendi, S.E., M.Si, Ak., Farida Idayati, SE., MSA., dan Hermono Widiarto, S.E., M.M., didampingi mahasiswa Feryawan Daniel Redyansyah dan Adrian Maulana Syafa.
Kampung Pancasila, Program Anyar Pemkot Surabaya
Kampung Pancasila merupakan program terbaru Pemerintah Kota Surabaya yang diresmikan oleh Wali Kota Eri Cahyadi bersama warga Sidotopo Wetan pada 16 April 2026. Program ini hadir sebagai penyempurnaan dari inisiatif kampung sebelumnya, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sinergi antara warga dan pemerintah.
Program ini bertumpu pada empat pilar utama: lingkungan, ekonomi, kemasyarakatan, dan sosial budaya. Untuk memantau perkembangannya, setiap bulan dilakukan self-assessment guna mengidentifikasi permasalahan dan menyusun rencana tindak lanjut yang berbasis kebutuhan warga, dengan melibatkan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Namun, di RW 05 Sidomulyo-Sidotopo, tantangan masih menghadang. Potensi ekonomi kreatif warga melalui UMKM belum tergarap secara maksimal akibat keterbatasan akses digital dan kemampuan manajerial.


STIESIA Masuk, UMKM Didampingi
Menjawab tantangan tersebut, STIESIA hadir sebagai fasilitator sekaligus mitra strategis. Melalui kolaborasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Dinkopdag) Surabaya, kampus ini memberikan bimbingan menyeluruh kepada pelaku UMKM lokal.
Beberapa program yang dijalankan antara lain workshop manajemen usaha dan pemasaran digital, pendampingan keuangan dan strategi produksi, serta program magang mahasiswa yang langsung terjun mendukung UMKM di lapangan.
Tak hanya itu, transformasi sosial pun didorong menjadi kekuatan ekonomi. Bank Sampah dikelola untuk mengubah sampah kering menjadi sumber pendapatan komunitas. Dana Sosial Mandiri dibentuk sebagai kas kolektif warga untuk kebutuhan mendesak, santunan kematian, dan program kesehatan. Sementara program Urban Farming dan Kas Kampung Madani turut mendukung ekonomi berbasis komunitas.
Dari Lele hingga Kopi, Potensi Kampung Menunggu Digarap
Kelurahan Sidomulyo-Sidotopo menyimpan potensi besar. Sektor kerajinan batik, kuliner, perikanan, hingga kopi menjadi andalan yang belum dioptimalkan. STIESIA mendorong diversifikasi produk, misalnya pengolahan ikan lele menjadi abon, pengembangan kopi lokal dengan teknik roasting dan kemasan kreatif, serta kerajinan tangan bernilai jual tinggi.
Pelatihan pengemasan higienis dan menarik juga diberikan agar produk warga lebih kompetitif di pasaran. Di sisi digital, warga dibekali keterampilan memanfaatkan Google Maps, Google Business Profile, media sosial seperti Instagram dan TikTok, hingga marketplace lokal dan nasional.
Hasilnya: Warga Kian Mandiri
Sejumlah dampak nyata mulai terlihat. Warga kini mampu mengelola sendiri berbagai lini usaha, mulai dari budi daya lele, pertanian hidroponik, hingga produksi kerajinan lokal. Sistem ekonomi berbasis komunitas pun terbentuk, dengan pengelolaan dana kolektif yang transparan.
“Keterlibatan warga dalam kegiatan ekonomi tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga memperkuat keguyuban dan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu perwakilan tim PKM STIESIA.
Keberhasilan Kampung Pancasila RW 05 kini bahkan dilirik sebagai model yang bisa direplikasi oleh RW lain di Surabaya, membuktikan efektivitas pendekatan bottom-up dalam pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Kampus sebagai Katalisator Perubahan
Keterlibatan STIESIA di Kampung Pancasila Sidomulyo-Sidotopo menegaskan bahwa perguruan tinggi tak hanya berperan di ruang kelas. Melalui Tri Dharma — pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat — kampus ini berhasil mengubah solidaritas sosial dan semangat gotong royong menjadi penggerak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Program ini juga selaras dengan inisiatif nasional Koperasi Merah Putih yang memberikan dukungan finansial bagi warga kurang mampu yang ingin memulai usaha. Dengan integrasi digitalisasi, penguatan SDM, akses modal, dan jaringan pemasaran, UMKM Sidomulyo-Sidotopo dinilai siap tumbuh lebih kompetitif — membawa serta kesejahteraan dan lapangan kerja baru bagi warganya.
Laporan/Foto : Tim PKM STIESIA Surabaya