STIESIA Perkuat Komitmen Riset dan Pengabdian lewat Festival Riset dan Inovasi Surabaya

SURABAYA (stiesia.ac.id)–Komitmen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya dalam memperkuat budaya riset dan pengabdian kepada masyarakat kembali ditunjukkan melalui partisipasinya pada Festival Riset dan Inovasi yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-3 Kebun Raya Mangrove (KRM), Sabtu (25/7/2026) hingga Minggu (26/7/2026).

Keikutsertaan STIESIA dalam kegiatan tersebut merupakan implementasi visi institusi untuk menjadi perguruan tinggi unggul yang menghasilkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak. Dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029, STIESIA menempatkan penguatan penelitian sebagai salah satu prioritas guna meningkatkan kualitas akademik, memperluas kolaborasi, serta mendorong pemanfaatan hasil riset bagi masyarakat dan dunia usaha.

Ketua STIESIA Surabaya Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA.,diwakili Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Dr. Nur Laily, M.Si., menghadiri sekaligus memberikan dukungan terhadap festival yang menjadi ajang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas tersebut.

Kepala LP2M STIESIA Dr. Nur Laily, M.Si., mengatakan, partisipasi kampus dalam Festival Riset dan Inovasi merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi sekaligus memperkuat hilirisasi hasil penelitian agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghasilkan penelitian yang tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Karena itu, STIESIA terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, industri, dan berbagai pemangku kepentingan agar hasil riset dapat diimplementasikan menjadi inovasi yang bermanfaat,” ujar Dr. Nur Laily, M.Si.,yang diwakili Drs. Ec. Hermono Widyarto, M.M. selaku Kepala Seksi HAKI LP2M STIESIA.

Lebih dari 70 perguruan tinggi, sekolah, hingga komunitas lingkungan seperti Tunas Hijau berpartisipasi memamerkan berbagai hasil riset dan inovasi kepada masyarakat. Festival tersebut menjadi ruang kolaborasi antara akademisi, pelajar, komunitas, pemerintah, dan dunia industri untuk memperkuat budaya riset sekaligus meningkatkan edukasi lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar Surabaya itu juga menjadi momentum peluncuran enam inovasi berbasis riset. Inovasi yang diperkenalkan meliputi Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan (EBT) berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step.

Dalam sambutannya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan Festival Riset dan Inovasi merupakan salah satu dari dua agenda utama dalam rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove. “Festival ini menjadi wadah mempertemukan hasil-hasil riset dan inovasi dengan masyarakat,” ujar Agus.

Menurut dia, selain pameran, BRIDA juga menggelar talk show yang mempertemukan akademisi dari perguruan tinggi negeri dan swasta se-Surabaya dengan kalangan industri.

“Kepala LPPM dari perguruan tinggi negeri dan swasta kita pertemukan dengan teman-teman industriawan, ada dari PT SIER. Kita juga mengundang beberapa pakar dari kampus,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, BRIDA juga meluncurkan sejumlah inovasi yang dirancang sebagai media pembelajaran interaktif. Salah satunya Mangrove Throne, permainan berbasis geolocation yang mengajak anak-anak mengenal ekosistem mangrove melalui aktivitas di luar ruangan.

“Jadi, adik-adik daripada di rumah, kita ajak bermain. Plus, mereka belajar banyak hal terkait mangrove,” ujarnya.

Selain itu, BRIDA memperkenalkan teknologi energi baru terbarukan berupa mesin pirolisis, generator listrik tenaga angin, dan panel surya. Agus menegaskan, seluruh inovasi tersebut dikembangkan sebagai sarana edukasi, bukan untuk kebutuhan produksi energi.

“Semuanya itu konteksnya bukan untuk produksi, tetapi sebagai sarana edukasi. Sehingga anak-anak yang datang ke kawasan mangrove tidak hanya belajar tentang ekosistem mangrove, tetapi juga mengenai energi baru terbarukan,” tuturnya.

Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, drg. Bisukma Kurniawati, mengatakan Kebun Raya Mangrove kini berkembang tidak hanya sebagai kawasan konservasi, tetapi juga menjadi laboratorium hidup yang menghubungkan penelitian, pendidikan, inovasi, hingga kebijakan publik.

“Di sinilah kita menghubungkan konservasi dengan penelitian, penelitian dengan pendidikan, pendidikan dengan inovasi, inovasi dengan kebijakan publik, serta kebijakan publik dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Bisukma.

Ia berharap berbagai inovasi yang lahir dari penelitian dapat terus berkembang menjadi solusi bagi masyarakat sekaligus mendukung keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), R. Hendrian, menyampaikan apresiasi atas perkembangan Kebun Raya Mangrove Surabaya. Menurutnya, pada 2025 kebun raya tersebut meraih penghargaan sebagai kebun raya daerah dengan percepatan infrastruktur terbaik di antara 44 kebun raya daerah di Indonesia.

“Prestasi pertama adalah penghargaan dari BRIN sebagai kebun raya dengan percepatan infrastruktur paling siap di antara 44 kebun raya daerah lainnya,” ujarnya.

Pada tahun yang sama, Kebun Raya Mangrove Surabaya juga dinobatkan sebagai kebun raya terbaik kedua di Indonesia. “Di usia yang baru dua tahun, Kebun Raya Mangrove Surabaya sudah berhasil menjadi kebun raya terbaik kedua se-Indonesia,” imbuhnya.

Hendrian menilai capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kota Surabaya, kalangan akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan.

“Tidak ada satu pun kebun raya yang berhasil dan sukses tanpa dukungan pemerintah daerahnya,” katanya. Menurut Hendrian, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki nilai strategis karena masih sangat sedikit kebun raya di dunia yang secara khusus mendedikasikan konservasinya pada tumbuhan mangrove.

Juga hadir dalam kesempatan tersebut, Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti. Mantan anggota DPRD Kota Surabaya ini menilai Festival Riset menjadi contoh nyata sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem riset dan inovasi. ”Saya melihat kolaborasi yang sangat baik antara pemerintah kota, perguruan tinggi, masyarakat, UMKM, hingga BRIN sehingga kegiatan ini berlangsung sangat meriah,” kata Reni.

Sebagai informasi, rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove berlangsung selama dua hari, 25–26 Juli 2026. Selain Festival Riset dan Inovasi, kegiatan juga diisi dengan Living Laboratory, Green UMKM Corner, penanaman bibit mangrove, penyebaran benih ikan bandeng, yoga, serta lomba riset dan inovasi mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Pemkot Surabaya juga menandatangani kesepakatan bersama dengan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan BMKG Kelas I Juanda Sidoarjo sebagai bentuk kolaborasi dalam mendukung pelestarian lingkungan dan penguatan ekosistem mangrove.

Penulis             : Drs. Ec. Hermono Widiarto, MM

Penyunting      : Fathurrochman Al Aziz

Foto                 : Istimewa

Diposting Oleh :

Tags :